Sedikit bercerita, diambil dan diperkaya dari kisah nyata salah seorang sahabat, smoga bermanfaat
"Kang ... !!! (Panggilan "kakak" ala pesantren salaf di jawa), tahu nggak, aku cinta pesantren. Mungkin suatu saat, aku akan sangat merindukan suasana pesantren". Angga membuka pembicaraan di tengah-tengah istirahat bersama setelah agenda Olahraga Futsal di sebuah pesantren. Menanggapi pernyataan sedikit "lebay" dari sahabatnya, Kang Brahma pun berkomentar "Ah ... yang benerrr ???, ente (panggilan hasil gubahan dari bahasa arab "Anta" yang berarti kamu, biasanya digunakan sebagai salah satu simbol keakraban di kalangan santri) pernah bilang dulu .... mo boyong (istilah keluar/lulus/putus dari pesantren), katanya mending nge-kos ..., lebih bebas, iya kan?". "yeeeee ... itu dulu, ...", Angga menjawab.
Suasana obrolan pun semakin menarik, dengan kisah ...proses perubahan keputusan Angga. Dalam penjelasannya (lebih tepatnya ... curhat kalee yach.. ^_^), Angga mengungkapkan ... bahwa pada masa-masa awal kuliah dan hidup di pesantren ia merasa sangat tertekan ... dan ingin segera keluar dari pesantren, Hal ini berawal ketika kedua orangtuanya menyarankan untuk masuk pesantren deket kampusnya. Maklum ... seumur-umur ia belum pernah mengenyam pendidikan ala pesantren, setelah lulus SD, ia melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA dekat rumahnya, yang konon belum tersentuh suasana pesantren. Ketika menginjak bangku kuliah, ia merasa keberatan, selain jauh dari rumah ..., perubahan suasana menuju keseharian ala pesantren dengan aturan-aturan yang ada, membuat hidupnya tak lagi nyaman, ...versi hati kecilnya.
Di tengah semester ke-tiga masuk pesantren, Angga pun merasa telah memiliki cukup alasan tuk boyong dan pindah ke kost-an. Nilai semesteran yang di bawah standar ... menjadi alasan utama, di tambah jadwal ngaji ba'da subuh dan maghrib ..., telah merenggut sebagian waktunya tuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.., yang kian hari ... kian bertambah. Ia merasa tidak bebas kemana-mana, harus ijin ..., musthi pamit bahkan lapor ketika ada tamu dan agenda yang tak biasa, terutama dalam jangka waktu yang lama. Apalagi menikmati gairah pemuda (seperti yang banyak ia temui di lingkungan teman-teman kuliahnya) ..., punya pacar yang bisa dibawa jalan kemana-mana, jikalau ketemu Ustadz, wah .... bisa kena marah. "huft ... menyebalkan, gw mahasiswa gitu lho ...", hati usilnya berkata.
Makin lama ... makin kuat keinginan Angga tuk segera "boyong" dari pesantren, akhirnya di awal ujian semester ke-tiga ia mulai mencoba impian dalam angan-angannya. Tidak langsung "boyong" ..., Angga pamit kepada pengasuhnya di pesantren untuk aktif di luar selama ujian semester-an. Ia belajar, tidur dan menghabiskan waktunya di kost-an teman sekelasnya. Hingga pada minggu ke-dua ... , tanpa sengaja ia bertemu dengan Salah seorang sahabatnya dari pesantren, Brahma namanya, di sebuah warung makan yang tak jauh dari kampusnya.
Mulanya Angga ragu-ragu tuk menyapa, "haduh .. gawattt !!, Malu ah ... dah lama gak ngaji", hati kecilnya berkata. Tiba-tiba ... "Assalamu'alaikum .. !!!!, Angga ... kemana saja kug jarang kelihatan, sibuk yach ...???" Kang Brahma menyapa sembari menepuk bahu Angga, seakan-akan terjadi gempa dihatinya, sahabat yg ia hindari karena malu, ternyata menyapa dengan "Grapyak"nya. "hmmm .... , anu Kang, i i iya .. sibuk ujian kampus", terbata-bata Angga menjawabnya. Brahma langsung memposisikan diri duduk di samping Angga, sembari menunggu pesanan makanan. Basa-basi pun berlalu ..., pembicaraan pun entah sampai hingga kemana, mulai dari kegiatan nge-Kostnya hingga kesibukan kuliah, yang pasti pada suatu titik Angga melontarkan sebuah pertanyaan kepada Brahma, tentang apa yang sedang menggelayuti hatinya, membuat perasaannya mendung, dan benar-benar membuat bingung.
"Kang boleh nanya gak, mo konsultasi neh ...???", Angga melontarkan sebuah pertanyaannya kepada Brahma, seniornya. "Boleh-boleh, santai saja lageeeee ...", Brahma mempersilahkan tanpa keberatan. Percakapan menarik pun dimulai.